Artikel

Panti Pijat Plus

Posted on 15 November 2010

Melihat judul thread ini, bisa dipastikan bahwa response sesaat adalah thread yang membahas soal Panti Pijat yang memberikan layanan plus. Tapi sebenarnya, saya tidak bermaksud membahas panti pijat dengan layanan plus-nya melainkan lebih ke nilai plus itu sendiri.

Nilai plus sering diartikan sebagai nilai lebih, dan ini berkaitan erat dengan kelebihan kita di banding yang lainnya. Jadi, pesan yang ingin disampaikan adalah :

Untuk bisa mendapat gaji lebih besar maka harus mempunyai nilai lebih dibandingkan yang lainnya. Bagaimana mungkin seorang staff mendapat gaji sama dengan BOD apabila tidak mempunyai nilai plus. Seseorang menjadi anggota BOD juga karena ybs memiliki nilai plus yang artinya mempunyai kelebihan dibandingkan yang lain sehingga layak menjadi BOD. Office Boy sekalipun suatu saat bisa menjadi anggota BOD apabila ybs selalu mengembangkan nilai plus dan melebihi yang lain.

Berkaitan dengan nilai plus ini, saya coba berikan suatu rumusan :

Nilai Plus x Pengungkit = Sukses

Apa itu pengungkit ? Pengungkit adalah situasi, kesempatan, dan networking.

Jadi meskipun punya nilai plus, tetapi tidak didukung oleh situasi, kesempatan, dan networking maka sulit pula untuk sukses.

——-

~AG (Gani Anthony)

Source : Milis Manager-Indonesia@yahoogroups.com

Comments (0)

Artikel

Budaya menghukum, Budaya Mengancam

Posted on 18 October 2010

RHENALD KASALI

*Thursday, 15 July 2010*

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. *

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. *

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.*

*Budaya Menghukum *

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya.

Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini, “lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimangnilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia,saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para pengujiyang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap.Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian. *

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskanpun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru diAmerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak disana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel.Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali kepengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh didepan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

*Melahirkan Kehebatan *

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…;dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor disekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.*

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.(*) *

*RHENALD KASALI **Ketua Program MM UI**http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/338297/*

Sungguh …. kita masih memerlukan jutaan guru yang bisa meng-*encourage* …

source : Milist Manager-Indonesia@yahoogroups.com

Comments (0)

Artikel

Malaysia truly Indonesia!

Posted on 18 October 2010

Malaysia truly Indonesia!

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
“Bukan lautan, hanya kolam susu… Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman!” Koes Plus.
“Nina bobok, ooh nina bobok… kalo tidak boobok digigit nyamuk!” anonim.

***
Tentu kita perlu berkonsultasi dengan para ahli psikologi-sosial, apakah jenis lirik lagu Kolam Susu seperti ini termasuk alat hipnotis massa yang telah ikut andil meninabobokan bangsa sejak tahun 70an, atau malahan teks Koes Plus itulah yang terus mengingatkan – lantaran manusia senantiasa tergelincir dalam status kelupaannya – agar senantiasa kembali dalam keadaan sadar terhadap situasi eksistensialnya. Sehingga dengan demikian ia justru telah menjadi semacam kritik sosial, karena terus memberi komparasi ideal (das sollen) terhadap realitas de facto (das sein) yang ternyata detrimental.
Sedari kecil memang kita sudah diayun-ayun dengan syair lagu Nina Bobok yang struktur isinya terasa irrelevant, bahkan mungkin illogical. Karena – kalau dipikir-pikir – apa sih hubungannya antara tidur/tidak tidur dengan digigit nyamuk? Jangan-jangan pola asuh kita sejak dulu memang telah menanamkan bibit cara pikir yang selalu tidak relevan dan tidak logis saat berhadapan dengan realitas dan saat menafsirkannya? Wallahuallambishawab.
***
Diberitakan bahwa Malaysia  tengah meluncurkan program ekonominya yang baru (Kompas, 22 Sept 2010). Program ini berambisi membawa Malaysia ‘going up to the next level’ untuk berdiri sejajar dengan negara-negara maju. Ukuran sederhananya, dari GDP perkapita – yang sekarang – sebesar US$ 6700 menjadi US$ 15ribu di tahun 2020. Sebagai perspektif, GDP per kapita Indonesia saat ini ada di level US$2600an. Untuk merealisasi ambisi ini pemerintah Malaysia merekrut seorang eksekutif (mantan bos Malaysian Airlines), Idris Jala, yang diangkat menjadi pejabat setingkat menteri di kantor PM Najib Razak untuk memimpin program transformasi ekonomi Malaysia Incorporated ini.
Ada 131 proyek yang membutuhkan dana investasi sebesar US$ 444milyar.
Kompilasi proyek berjangka waktu 10 tahun ini meliputi: pengembangan jaringan internet, energi nuklir dan matahari, kereta cepat Malaysia-Singapura, pengembangan industri minyak dan gas, pertanian, pariwisata, jasa keuangan dan infrastruktur perkotaan. Negara jiran ini berhasil “memaksa” dirinya sendiri keluar dari zona kenyamanan akibat keberhasilan program-program mantan PM Mahathir Mohammad yang legendaris itu. Model ekonomi Malaysia saat itu (bahkan sampai saat ini) adalah masih mengandalkan industri manufaktur. Pernyataan yang menarik dari Idris Jala, “Jika kita mempertahankan model ekonomi sekarang, kita akan terjebak dan akan kehilangan talenta yang kita butuhkan untuk mendukung pengembangan ekonomi.” Lalu pungkasnya, “Malaysia tidak akan membuang-buang waktu. Kami membutuhkan transformasi ekonomi yang utuh dan radikal!”
***
Di saat yang sama ada fenomena menarik, di harian yang sama dan tanggal yang sama (Kompas, 22 Sept 2010) ditampilkan iklan full-color dari Biro Hukum dan Humas Kementerian Pertanian Indonesia berjudul cetak tebal merah: “Jangan Panik, Pasokan Pangan Aman!” Dilengkapi foto seremonial kunjungan para menteri ke gudang Bulog. Isi pesannya ingin mengatakan bahwa masyarakat tidak usah takut kelaparan lantaran kekurangan pasokan pangan. Soal perut memang krusial, Abraham Maslow bilang penuhi dulu kebutuhan fisik baru bicara soal rasa aman (safety needs), dengan perut lapar orang bisa nekat menerabas apa saja. Di paragraf akhir iklan itu dikatakan, “Selain beras, papar Mentan, pasokan daging dan telur ayam juga surplus sampai akhir tahun. Sementara ketersediaan gula, daging sapi, bawang merah dan cabe cukup untuk memenuhi kebutuhan menjelang lebaran tahun ini. Atas dasar itu, Mentan meminta masyarakat tidak panik, ‘ketersediaan pangan kita aman. Bahkan surplus,’ tegasnya.”
Namun lucunya, headline di halaman terdepan harian yang sama itu mengabarkan, “Cuaca Ganggu Pertanian, target produksi tak terpenuhi,” intinya isi berita utama itu menyampaikan bahwa bakal terjadi kekurangan pasokan pangan gara-gara gagal panen. Solusinya tentu impor beberapa dari bahan-bahan pangan tersebut (misalnya beras, gula dan jagung). Sehari sebelumnya bahkan Kompas (21 Sept 2010) telah mewartakan bahwa Mentan dan Menperdag memberi ijin impor Beras dan GKP (gula Kristal putih).
***
Tanpa tedeng aling-aling kita mesti mengakui bahwa dalam banyak aspek – utamanya aspek pengelolaan perekonomian, industri, pembangunan infrastruktur, pendidikan umum dan kesejahteraan masyarakatnya – Malaysia semakin jauh lebih unggul. Walau memang – dalam aspek kesenian dan warisan kebudayaan (secara historis) – Indonesia rasanya lebih berwarna.
Selain perselisihan soal demarkasi, omelan dengan negara jiran ini lebih bernuansa pencaplokan properti budaya (warisan kesenian). Corak batik, lagu jadul, tarian daerah, makanan (resep) daerah adalah sebagian dari properti budaya Indonesia yang diganyang Malaysia.
Di luar konflik soal demarkasi, mungkin lebih ciamik kalau kita mesti saling berangkulan. Bangsa serumpun ini bisa saling belajar, bergaul dengan sopan dan terhormat. Di bidang ekonomi, infrastruktur, pendidikan dan profesionalisme aparat, jelas Indonesia mesti semakin menjadi seperti Malaysia. Belajar berpikir logis dan relevan. Dan soal cita rasa seni serta warisan kebudayaan, keindahan Indonesia memang tak bisa dipungkiri keunggulannya. Itu pun boleh pula dipelajari dan diserap oleh bangsa serumpun ini. Tak elok ribut-ribut soal kesenian Pak Cik, sila nikmati budaye Indonesia, sila jadikan Malaysia truly Indonesia.
(baca selengkapnya di artikel terlampir, dari Majalah MARKETING)
STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
source : Milist Manager-Indonesia@yahoogroups.com

Comments (0)

Artikel

Lampu Merah

Posted on 17 October 2010

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau.

Mike segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lenggang.

Lampu berganti kuning. Hati Mike berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.

Mike bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Prit!!!

Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Mike menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu kan Jack, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Mike agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.

“Hai, Jack. Senang sekali ketemu kamu lagi!”

“Hai, Mike.” Tanpa senyum.

“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah.”

“Oh ya?” Tampaknya Jack agak ragu.

Nah, bagus kalau begitu. “Jack, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”

“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”

Oh-oh, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Mike harus ganti strategi. “Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.”Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

“Ayo dong Mike. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu.”

Dengan ketus Mike menyerahkan SIM lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Jack menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Jack mengetuk kaca jendela. Mike memandangi wajah Jack dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Jack kembali ke posnya.

Mike mengambil surat tilang yang diselipkan Jack di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Mike membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Jack.

“Halo Mike,

Tahukah kamu Mike, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, Ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Mike. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah.

Jack”

Mike terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Jack. Namun, Jack sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita.

Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.

Dari : http://nomor1.com/artikel/?id=R9224

Rumadi Hartawan

http://www.facebook.com/rumadi.hartawan.1

source : Milist Manager-Indonesia@yahoogroups.com

Comments (0)

Training Management

Mengapa Aktivitas Training Sering Tidak Berdampak Kepada Kinerja?

Posted on 17 October 2010

Mengapa Aktivitas Training Sering Tidak Berdampak Kepada Kinerja?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Berapa kali perusahaan Anda mengadakan acara training? Anda termasuk beruntung jika bekerja di perusahaan yang memiliki komitmen tinggi untuk menyediakan training bagi para karyawannya. Faktanya, banyak perusahaan yang tidak memberikan perhatian yang memadai terhadap training. Hal ini tidak lepas dari 2 hal yang sering menjadi alasan utama yaitu;  anggapan bahwa training itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan training sering tidak mampu meningkatkan kinerja karyawan. Sekarang, saya ingin mengajak Anda untuk menguji kedua anggapan itu; benarkah demikian?

Salah satu tugas yang saya emban dalam setiap program pelatihan Train The Trainers (TTT) atau Train For Trainers (TFT) bagi para Manager & Leaders yang saya fasilitasi adalah; mengubah paradigma berpikir para Manager atau Leader yang mengikuti program TFT saya. Salah satu pemikiran tipikal yang sering muncul adalah; mengapa saya harus diajari tentang fungsi trainer padahal saya adalah seorang manager lapangan atau manager gugus fungsi operasi yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan training?

Saya paling senang dengan pemikiran seperti itu. Sebab, hal itu memberi saya kesempatan untuk bertukar pikiran. Menurut hemat saya, justru karena seseorang menduduki jabatan sebagai Manager-lah maka dia harus memiliki kemampuan untuk menjadi seorang trainer. Lho, bukankah HRD dan para trainers yang seharusnya bertanggungjawab? Bisa benar. Tetapi, saya yakin Anda pernah mendengar kalimat ini;”Every Manager is a Human Resources Manager.”  Now, if you are truly a Manager, then you have to play your role as a human resources manager as well. That’s the best advice I can tell you.

”Sory, itu sama sekali bukan jawaban!” mungkin Anda berpikir demikian.
Baiklah kalau begitu. Mari kita lihat situasi yang sedang kita hadapi. Kita terbiasa berdekatan dengan sebuah profesi yang bernama ’Trainer’. Misalnya, saya. Profesi saya adalah Trainer yang mengkhususkan diri pada topik-topik Leadership dan Pengembangan SDM. Tentu kita juga mengenal begitu banyak orang yang berprofesi sebagai ’Trainer’ lainnya. Kita sudah terbiasa tinggal di lingkungan yang memiliki warna profesi trainer. Oleh sebab itu, kita kemudian terjebak ke dalam sebuah anggapan bahwa ’Trainer’ itu adalah ’profesi’.  Ini adalah jebakan pertama.

Di kantor Anda, mungkin ada juga orang yang menduduki jabatan sebagai ’Trainer’ atau ’Training Manager’. Sehingga, kemudian kita masuk ke dalam jebakan pemikiran yang kedua yaitu; ’Trainer itu adalah titel atau jabatan.’

Kedua jebakan itu sering menjadikan kita lupa bahwa ’training’ adalah sebuah proses untuk mendidik seseorang dari ’tidak tahu menjadi tahu’. Dari ’tidak bisa’ menjadi bisa’. Dari ’berperilaku yang tidak sesuai’ menjadi ’berperilaku sesuai’. Pertanyaan saya; siapa yang bertanggungjawab terhadap proses itu melebihi atasannya sendiri? Tidak ada. Hal itu adalah tanggungjawab atasan. Bukan HR Manager, apa lagi orang dari luar perusahaan.  Dengan mengatakan hal ini, saya memang secara sengaja hendak membuka kesadaran kita bahwa ’trainer eksternal’ itu tugasnya tidak lebih dari sekedar ’membantu’ para atasan supaya proses perubahan pengetahuan, keterampilan maupun perilaku itu bisa berlangsung dengan baik.

Jadi, jika Anda mengundang saya menjadi trainer untuk para karyawan di perusahaan Anda misalnya; maka peran saya tidak lebih dari seorang pembantu yang membaktikan diri kepada Anda. Sedangkan Anda adalah tuannya. Andalah yang memegang peranan terbesar terhadap implementasi hasil proses belajar selama training berlangsung bersama saya. Bahkan sekalipun Anda mengundang Trainer terbaik sedunia, dampak positifnya terhadap bisnis Anda hanya akan terasa jika dan hanya jika sebagai atasannya Anda memberikan ruang yang memadai untuk implementasinya.

Fakta menunjukkan bahwa pengaruh training sering hanya bisa bertahan dalam waktu yang sangat singkat. Namun karena kita percaya bahwa ’repetition is the mother of the skill’, maka secanggih apapun  teori yang dipelajari di kelas-kelas training pasti akan menguap begitu saja jika tidak diimplementasikan dalam kehidupan kerja sehari-hari. Adakah trainer eksternal berkesempatan mengawal proses implementasinya? Kalaupun ada, tidak dalam jangka waktu yang cukup lama untuk memastikan keahliannya terbentuk.

Pada tahap inilah kemampuan seorang atasan untuk menjadi trainer bisa memberikan manfaat. Oleh sebab itu, saya sungguh-sungguh mengajak para Manager untuk belajar menjadi trainer. Sebab jika sudah memiliki kemampuan untuk menjadi trainer, maka mereka memahami bagaimana metodologi training. Mengerti proses belajar yang perlu ditempuh. Serta menguasai cara implementasi. Dengan begitu, maka mereka bisa bermitra dengan trainer eksternal dalam meletakkan dasar-dasar keilmuan untuk para anak buahnya. Lalu sebagai atasan, mereka meneruskan proses belajar anak buahnya melalui implementasinya.

Dengan cara itu, maka kita tidak lagi perlu memandang training sebagai aktivitas yang menguras biaya. Sebab, jika para atasan memiliki kemampuan untuk melakukan tindak lanjutnya, maka kita bisa melepaskan diri dari ketergantungan terhadap trainer eksternal. Sehingga investasi terhadap training dengan trainer eksternal dapat dioptimalkan. Dan investasi itu bertransformasi kedalam bentuk peningkatan kemampuan karyawan secara nyata di tempat kerja. Jadi, ayo kita belajar untuk menjadi trainer.

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman

source : Milist Manager-Indonesia@yahoogroups.com

Comments (0)

Artikel

Sukses Bukan Hak Anda

Posted on 17 October 2010

Sukses Bukan Hak Anda
Dikutip dari buku H.U.M.A.N. Technology, sebuah pentalogi pencapaian sukses.
Oleh Hery Ratno dan Nugroho Nusantoro, Terbitan Iluminatie, 2010.

Sekian lama Anda mendengar jargon-jargon ‘sukses adalah HAK Anda’, ‘Anda berHAK untuk sukses’, dan lain sebagainya, kemudian sekarang The Human Technology men-klaim bahwa sukses BUKAN HAK Anda. Ya. Anda berhak untuk kaget.

Sebelum melanjutkan kekagetan Anda, kita bahas dulu definisi ‘hak’ dan ‘sukses’. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, hak adalah kekuasaan atau wewenang untuk menuntut. Sedangkan di dalam bahasa Inggris arti dari hak atau right kurang lebih sama dengan artinya didalam bahasa Indonesia, a freedom that is morally or legally due to a person. Meneliti kata hak disini akan membawa kita pada suatu pemahaman bahwa kita mempunyai wewenang atau diperbolehkan untuk menuntut atau meminta.

Sehingga kalimat ‘sukses adalah HAK Anda’ bisa kita artikan bahwa Anda diperbolehkan (a freedom that is morally or legally due to a person) untuk menuntut atau meminta kesuksesan. Bagaimana kalau Anda tidak menuntut atau memintanya? Tidak apa-apa, tidak ada masalah.

Sekarang mari melihat arti kata sukses. Definisi yang dirumuskan oleh tim Human Technology tentang sukses: sukses adalah rasa yang sangat enak, pas dan membuat Anda merasa ‘terpenuhi’. Coba Anda resapi sekali lagi definisi dari sukses itu.

Definisi tersebut akan semakin jelas bila Anda telusuri dengan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan pertama, APA sebenarnya sukses itu? Sukses adalah RASA. Pertanyaan kedua, RASA seperti apa? rasa yang ENAK dan PAS. Pertanyaan terakhir, bagaimana rasa yang PAS dan ENAK itu? Rasa yang membuat Anda TERPENUHI.
Bila Anda berhak sukses maka Anda diperbolehkan (mempunyai wewenang) untuk menuntut atau meminta kesuksesan. Bagaimana kalau Anda tidak menuntut atau memintanya? Ya tidak ada masalah. Sekali lagi kalau Anda HANYA merasa ber-HAK, maka tidak sukses ya tidak apa-apa. Itu keputusan Anda. Benarkah tidak apa-apa?

Tidak apa-apa disini berarti Anda merasa tidak ada masalah dengan perasaan yang sangat tidak enak, tidak pas dan merasa selalu kekurangan. Anda merasa fine-fine saja hidup dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari dengan perasaan-perasaan yang luar biasa menyiksa seperti itu. Benarkah, atau tepatnya bisakah, Anda merasa tenang bila setiap saat yang ada di hati Anda adalah perasaan tidak enak, perasaan tidak pas dan perasaan kekurangan? Sebagai manusia kebanyakan penulis pribadi akan menjawab tegas untuk diri penulis sendiri, “TIDAK BISA!”

Di sisi lain, HAK yang didefinisikan kewenangan untuk menuntut juga menjadi arti negatif bila disandingkan dengan sukses. Kenapa? Karena dengan HAK atas sukses, maka seseorang bisa mempunyai opini bahwa tanpa usaha apa pun dirinya mempunyai kewenangan untuk menuntut (menjadi) sukses. Kan sudah menjadi hak yang harus dipenuhi. Lalu dia akan menuntut kepada siapa? Orang atau pihak lain mana yang bisa menjamin memberi  kesuksesan kepada dirinya? Perasaan mempunyai kewenangan untuk menuntut sukses inilah yang terus menerus memberikan rasa tidak enak, tidak pas dan tersiksa. Ibaratnya kita merasa nelangsa dan berpikir “Saya kan punyak HAK atas SUKSES, kenapa kok tidak kunjung datang? Kenapa kok tidak ada yang memberi saya jalan untuk sukses?”

Perasaan tidak nyaman dan pasrah seperti ini tentu mempengaruhi sikap dan tindakannya secara negatif. Artinya, dia akan bersikap menunggu dan pasrah serta berharap-harap suatu saat sukses akan datang karena telah menjadi hak baginya. Akankah sukses datang dengan sikap seperti ini? TIDAK! Perasaan berharap seperti ini sungguh menyiksa dan tidak mengenakkan.

Setiap waktu, kita butuh perasaan yang sangat enak, kita mendambakan perasaan yang pas dan kita mengharapkan perasaan terpenuhi. Kita harus menjalani hidup saya dengan semua rasa itu. Kita butuh rasa enak, pas dan terpenuhi itu. Kita butuh sukses!

Tepat sekali. Sukses adalah kebutuhan Anda, kami dan semua orang di dunia ini tanpa terkecuali karena sukses adalah tentang rasa seperti di atas. Itulah mengapa Tuhan mengajar kita agar mau mengubah nasib, agar berusaha mencapai kesuksesan. Itulah kenapa ratusan ribu uang telah kita investasikan untuk membeli buku-buku tentang sukses, jutaan rupiah kita belanjakan untuk mengikuti seminar tentang sukses. Sekali lagi karena sukses itu KEBUTUHAN.

source : Milist Manager-Indonesia@yahoogroups.com

Comments (0)

SEE MORE ARTICLES IN THE ARCHIVE